Tahun ini, hujan datang terlambat. Kata para cerdik pandai
penyebabnya adalah El Nino, anomali gejala alam yang menghalangi terbentuknya
awan hujan.
Media
cetak maupun elektronik sering memberitakan banyaknya upaya mempercepat
datangnya hujan. Mulai dari yang paling profan dengan menebarkan garam di atas
awan yang berpotensi hujan hingga yang paling sakral dengan memanjatkan do’a
dan pengharapan penuh agar hujan cepat datang. Namun, hujan tetap terlambat
datang.
Bayangan
air semakin sering terlihat di jalan raya. Lalu lalang kendaraan agak
berkurang. Langkahnya berat namun pasti. Udara yang panas membuat tenaga cepat
terkuras. Namun, topi biru yang baru ia dapatkan dapat mereduksi sedikit
sengatan matahari pada kepalanya. Keringat membasahi tubuhnya. Seketika
pikirannya melayang melintasi ruang dan waktu.
Kejadian
tujuh belas (17) tahun yang lalu, kembali menyergap ingatannya. Wanita paruh
baya yang dipanggil ibu seperti sedang tertidur. Pulas tanpa beban. Dokter
berkata bahwa dia hanya kelelahan. Sang ibu memang sangat keras bekerja. Dia
dua kali lebih keras bekerja dibanding yang lain.
Meskipun
pekerja keras dia dua kali lebih cinta anak-anaknya dibanding ibu yang lain.
Kekuatan, ketekunan dan cinta kasihnya seperti mesin pengganda yang selalu
memberikan lebih dari yang umumnya ada.
Kini
dia terlihat seperti tertidur, pulas tanpa beban. Gumpalan bulir bening tak
henti-henti mengalir dari kedua matanya. Ya, baru kali ini ia melihat sang ibu
terlihat tak berdaya. Mulai detik itu, ia menguatkan hatinya, mengazamkan
dirinya untuk berusaha dua kali lebih keras, untuk bermental dua kali lebih
kuat, untuk bersikap dua kali lebih baik. Ia tak ingin membuat susah sang ibu.
Pikirannya
kembali ke masa sekarang. Seketika pasokan energi asupan semangat dan suntikan
tekad telah masuk ke dalam dirinya dua kali lebih banyak. Langkahnya kian
mantap. 160 pon massa tubuhnya tak terasa berat, ringan saja. Hobinya mengajar
yang menurun langsung dari sang ibu, kini membuatnya dapat menopang hidupnya
sekaligus hidup ibu dan tiga orang adiknya.
Hujan
boleh jadi terlambat datang. Namun, semangat untuk mencerdaskan orang lain tak
boleh padam. Namanya Azmi Shidqi, 27 tahun. Pemberdaya dari Rajagaluh
(Majalengka). Ia suka tertawa namun lebih sering termenung untuk memikirkan
semesta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar